Kesempatan Belum Tentu Datang Dua Kali tetapi Apakah Kita Tahu yang Terbaik untuk Kita?
Kata "pengabdian", entah selalu membuatku tergila-gila sejak beberapa tahun yang lalu. Saya mengenalnya sejak berada di fase putih abu-abu. Membentukku menjadi individu untuk bisa survive dengan hidup yang sampai sekarang pun masih menjadi tugas besar.
Berawal penolakan dari sebuah lembaga pengabdian yang berujung pengalaman hebat. Mungkin ini kalimat yang tepat untuk mengawali cerita kali ini. Tepat sebelum saya wisuda profesi Ners, saya sudah megawali menjadi seorang job seeker. Saya mendaftar di beberapa lembaga, perusahaan, partime, fulltime, internship, dan segala macamnya. Hanya ada jawaban bahwa saya tidak diterima sebagai peserta fully funded (maklum mahasiswa) di sebuah lembaga pengabdian yang akan melancong ke Sumatera pada bulan April. Saya kecewa, karena saya terlalu optimis diterima.
Tepat di awal Februari saya menemukan Indonesia Mengajar yang pada saat itu sedang perpanjangan pendaftaran dan saya tidak tahu banyak soal ini. Berbekal kekecewaan di lembaga A, saya nekat mendaftarkan diri di Indonesia Mengajar. Semua persyaratan saya selesaikan dan aplikasi pun saya kirim deadline pengumpulan. Saya tidak mencari reverensi apapun, video saya buat H-2 penutupan, malamnya saya editing, dan paginya saya membuat esai sekitar 2 jam.
13 Februari 2020
Saat bangun tidur saya terkejut melihat email masuk atas nama Indonesia Mengajar. Saya langsung melek dan terperanjat dari rasa malas bangun di pagi hari. Apa isinya? Saya lolos tahap Direct Assesment pada awal bulan Maret di Jakarta. Saya masih tidak percaya dengan pengumuman itu karena dari 7690 peserta yang mendaftar hanya diambil kurang lebih 250 an peserta untuk masuk ke tahap kedua ini. Saat itu juga saya sangat denial dengan langkah saya selanjutnya. Apakah saya lanjutkan atau saya biarkan? Saya hampir tidak bisa berpikir harus melewati banyak persetujuan, apa saya nekat saja? Tapi masih ada tahap intensif UKNI di kampus.
Saya masih cemas hingga pada akhirnya saya mengonfirmasikan untuk pengajuan jadwal yang mulanya tanggal 4 Maret menjadi 25 Februari dan mendapat persetujuan dari pihak panitia.
18 Februari 2020
Terlihat email masuk, pemberitahuan dari Indonesia Mengajar terkait lokasi, tema simulasi dan jadwal tes yang padat mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Beberapa hari bahkan h-3 hari pun saya belum memiliki uang sama sekali untuk ke Jakarta. Saya pergi ke kantor Grab untuk aktivasi akun tetapi persyaratan saya kurang sebab STNK masih di polisi (beberapa minggu yang lalu ditilang). Saya sangat bingung dan cemas. H-3 hari pun tiba-tiba saya mendapatkan panggilan freelance ketik, dari situlah saya bisa membeli tiket dan pinjam uang teman. H-1 keberangkatan seperti tak mungkin saya berangkat sebab ada satu kendala perijinan dengan ibu kos. Tapi saya niat nekat dan setelah drama karena ibu kos tidak kunjung pulang Semarang akhirnya saya menghubunginya lewat chat dan mendapat ijin berangkat ke Jakarta.
24 Februari 2020
Pagi-pagi saya berangkat ke stasiun dengan gerimis syahdu dari Tembalang hingga Stasiun Tawang. Ditemani hujan selama perjalanan hingga Jakarta. Sesampainya di stasiun Jatinegara saya tidak tahu harus kemana, akhirnya saya memutuskan sholat dhuhur dan hebatnya saya bertemu dengan seorang perempuan seumuran dengan saya. Saya memberanikan diri bertanya dan ternyata tujuan kita satu arah. Dia menemani saya naik KRL (tahu aja saya lagi bingung naiknya gimana) kita berpisah di stasiun Duri Kalibata. Bodohnya saya tak memperkenalkan diri dengannya bahkan nama pun saya tak tahu. Saya turun di stasiun UI, kampus kebanggaan bagi saya (mungkin ada jodoh saya disitu tapi semesta masih menyembunyikannya hehehehe). Turun dari KRL saya mencoba meghubungi beberapa teman saya di Jakarta yang beberapa hari yang lalu sudah sempat saya hubungi berniat menginap dikosnya. Tetapi tidak menemukan hasil (maklum mereka sudah pada sibuk bekerja). Akhirnya saya dijemput teman baik yang sedang pelatihan di Jakarta dan santuynya dia tidak membawa helm untuk saya. Dibawanya saya melaju ke arah Jl.Aselih Ciganjur di rumah senior salah satu organisasi sewaktu masih kuliah. Hanya sekedar numpang duduk dan mikir buat mencari penginapan.
Akhirnya saya menghubungi calon jodoh (semoga saja hahahahaha boleh menghayal kan?) di UI menanyakan penginapan murah sekitar IPMI International Business School, belum selesai chat terbalas lunas sudah dapat tawaran senior untuk menginap di rumahnya saja. Alhasil, saya tidak bisa menolaknya. Menjelang malam saya ingin belajar materi simulasi pengajaran untuk DA besok karena saya belum menyentuhnya sama sekali tapi diri ini sudah terlalu lelah, akhirnya tertidur. Paginya baru belajar sedikit materi soal energi kelas 4 SD dan hujan mengguyur deras kota Jakarta dari kemarin sore hingga saat ini. Saya berniat berangkat dengan taxi online tapi pasti macet. Lalu saya berangkat diantar teman sambil mengantar anaknya senior berangkat ke sekolahan yang kebetulan jalannya searah. Bener-bener menerjang hujan deras yang saya pikirkan cuman laptop dan ijasahku. Pagi itu benar-benar Jakarta tidak bersahabat, macet, hujan deras dan banjir lengkap sudah tapi saya tetap lanjut karena jam sudah menunjukkan pukul 07.05 WIB. Tas, sepatu, baju atasan, rok serta jilbab yang ku kenakan basah parah sebab jas hujan yang tidak terlalu mencover tubuhku dari air hujan.
Dengan perasaan takut telat karena hampir setengah delapan, sambil lari-lari saya masuk dan untung masih regis, untungnya lagi saya bawa baju ganti. Hal pertama yang saya tanyakan adalah toilet, saya langsung ganti baju atasan dan jilbab wkwkwkkw. Tapi sepatu dan seisinya tidak terselamatkan, saya memakainya basah selama DA.
Sedikit saya ceritakan soal DA yang saya jalani. Setelah registrasi masuk kita berkumpul di sebuah ruangan melakukan perkenalan (disini saya merasa ciut, kenapa? sebab peserta lain adalah orang-orang keren, orang-orang hebat, anak LIPI, BUMN, guru, freelancer, dll. Sumpah cuman saya yang pengangguran). Lanjut psikotes, diberi kasus yang amat panjang, kompleks, dan rumit sekitar 17 halaman. Kemudian dibagi beberapa kelompok dan kelompok saya yang pertama menjalani FGD, kedua simulasi mengajar yang bagi saya ini sangat gila banget karena ada kasus-kasus didalamnya (yakin materi gak tersampaikan secara tuntas) ada yang tiba-tiba orang tua datang bawa parang, tiba-tiba siswanya pengen pup dan sekelas ikut semua, tiba-tiba pedagang asongan masuk, tiba-tiba gempa, tiba-tiba ada imunisasi dll. Selanjutnya ada audiensi dengan pemerintah dan yang terakhir interview dengan psikolog, bapaknya sudah agak sepuh (sumpah bapaknya baik banget, kayaknya bapaknya bingung sama ceritaku wkwkwk tapi aku selalu bilang banyak kata yang ingin saya keluarkan tapi saya bingung pak) tapi ini adalah interview dengan psikolog yang paling saya ingat dan gak bakalan lupa, entah kenapa segala pembicaraan saya terasa mengalir saja, bener-bener apa adanya, sampai bahas mindfulness dan yang paling membekas adalah pertanyaan "apa keputusan terbesar yang kamu ambil yang menurutmu itu sangat penting dalam hidupmu?" "berusaha mencintai diri saya sendiri pak" bener-bener tadi saya ngomong apa sih, kok bisa jawab ini, dan penyesalan-penyesalan tak penting lainnya.
Ternyata seluruh peserta telah menunggu saya di ruangan inti, kita bersorak bahagia karena telah mampu melewati hari yang cukup melelahkan ini, seneng banget kenal dengan asesor yang hebat dan keren. Kalimat terakhir asesor "selamat ya kalian sudah melewati latihan dari tahapan seleksi LPDP". Pukul 17.15 selesai sudah rangkaian DA hari ini. Saya cepat-cepat sholat Asar sebab waktu istirahat sholat saya masih interview dengan psikolog. Saya langsung melanjutkan pesan gojek dan bapak gojeknya malah bertanya "pasar senen banjir gak ya mbak? " (Duhhh mana gue tahu bang). Setelah menempuh perjalanan setengah jam dari IPMI sampai juga di stasiun Pasar Senen, dan segera mengeringkan sepatu hahhahaha (Udah gak usah dibayangin).
Tepat pukul 23.29 WIB kereta Tawang Jaya mengantarkan saya kembali ke Semarang, kota sejuta kenangan. Sudah tidak tahan lagi dengan capek ditubuh, saya langsung tidur. Sampai Semarang tubuh udah pengen cepet tidur dan alhasil malah hibernasi. Sampai ditahap ini pun rasanya bersyukur banget bisa dipertemukan dengan orang-orang keren, orang-orang hebat dengan lingkungan baru, atmosfir yang baru. Kenapa saya bilang keren karena mereka sudah berniat mengabdikan dirinya untuk bangsa meskipun sudah bekerja beberapa tahun di perusahaan, BUMN, guru, S2, freelancer dan lain sebagainya. Saya juga gak mikir nanti mau lolos apa gak, yang penting udah nyobain rasanya DA tu kayak gimana. Rasanya hujan, banjir, desek-desekan di KRL, macet-macetan di Jakarta itu kayak gimana, dan pastinya dapet temen baru.
27 Februari 2020
Baru beberapa hari tidak memikirkan IM, eh ada temen saya yang menghubungi "aku dapet email dari IM, udah ku kirim ke IM semua soal kamu". Kaget lagi saya, loh seriusan. Ternyata ke tiga teman begitu juga senior organisasi saya dapat konfirmasi dari IM. Saya tidak banyak tanya soal ini. Biarkan terserah mereka mau mempersepsikan saya seperti apa.
28 Februari 2020
Saya lebih kaget lagi, sore-sore saat saya main ke rumah teman saya tiba-tiba ada email bahwa dari Indonesia Mengajar bahwa saya lolos DA, jika ingin lanjut saya harus MCU dengan ketentuan dari IM dan saat itu benar-benar masalah saya masih sama, tidak pegang uang sama sekali. Saya juga belum minta ijin keluarga. Lebih heboh lagi karena MCU membutuhkan biaya yang lumayan banget (lebih dari 2 bulan beasiswa saya jaman sarjana dulu).
Setelah ibu mengijinkan saya masih bingung apakah ini keputusan saya tepat atau belum. Tapi ini kesempatan. Selain itu ada batas pengiriman hasil MCU. Disisi lain saya mendapatkan panggilan interview di 2 perusahaan sekaligus. Memang ya, semesta itu pinter banget kalau mau bikin manusia bingung. Saya pikir-pikir sampai saya tidak fokus mengerjakan tryout di hari pertama intensif UKNI. Saya timbang-timbang, saya tanya beberapa orang dan bismillah lillahi Ta'ala saya ambil IM. Saya mencari-cari info MCU yang pasang tarif agak miring, akhirnya pilihan saya jatuh di RS kampus sendiri. Mulai MCU tanggal 4 dan harus lanjut tanggal 5 karena masih ada yang belum. Dua hari pula saya bolos intensif UKNI. Oh, sebenarnya ada satu tes yang tidak saya lakukan sebab di RS ini tidak ada dan saya harus ke lab klinik terdekat, karena uang saya sudah amat snagat menipis dan biayanya lumayan akhirnya tidak saya lakukan. H-1 penutupan pengiriman, hasil MCU baru saya kirimkan (panteslah saya dulu dapat nominasi ter deadline di jurusan).
10 Maret 2020
Saya mendaptkan email dari Indonesia Mengajar, secara resmi saya lolos ke tahap selanjutnya yaitu tanda tangan kontrak kerja Pengajar Muda. Terakhir dikirim tanggal 18 Maret dan saya pun santuy-santuy (ah ngirimnya entar aja kalau udah mepet) dan ingin menanyakan kepada ibu lagi apakah beneran ikhlas melepaskan anak perempuan satu-satunya ini ke luar Jawa.
18 Maret 2020
Lantas apa yang terjadi? Pandemik Covid-19, beliau sangat ampuh sekali dalam membuyarkan segala rencana. Semesta memang selalu memiliki jalannya sendiri untuk manusia di planet bumi ini. Batas pengiriman diperpanjang satu hari, menjadi tanggal 19 Maret 2020 pukul 12.00 WIB. Setelah saya menemukan materai karena kosong dibeberapa tempat pada malam harinya saya benar-benar merasa tamat. Kenapa? firasat saya benar bahwa UKNI diundur. Berdasarkan surat permohonan dari panitia Uji Kompetensi Nasional Tenaga Kesehatan kepada Kemendikbud dinyatakan akan dilaksanakan pada bulan Juli 2020. Selesai sudah harapan saya mengikuti Indonesia Mengajar angkatan XX. Semalaman saya tidak bisa tidur, menangis, bertanya ke beberapa teman, bagaimana baiknya karena otak saya sedang tidak bisa berpikir secara realistis.
Antara bersyukur dan sedih, bersyukurnya saya belum sign contract karena ada penalti jika sudah dikirimkan ke pusat. Sedihnya, saya sudah memperjuangkannya. Tapi kehendak Tuhan siapa yang tahu, manusia memang hanya bisa berencana.
19 Maret 2020
Hari ini pagi-pagi saya mencoba menghubungi panitia IM apakah ada ijin saat pelatihan intensif, atau apapun yang sekiranya bisa dilakukan agar dapat mengikuti UKNI di bulan Juli. Ternyata tidak, tidak ada yang bisa diharapkan, Tuhan sudah menunjukkan jalannya bahwa Diah tidak disini dulu, cari tempat lain dulu, cari jalan lain dulu. Pertahanan runtuh, dengan berat hati harus memilih salah satu, melepaskan yang sudah diperjuangkan, dan keputusan berat yang harus diambil. Menangis, ya itu salah satu cara agar hati saya tidak terasa sesak sejak tadi malam dan telfon beberapa teman dekatku buat dengerin curhatanku. Kesempatan emang gak tahu bakalan dateng berapa kali, tapi apakah kita tahu kesempatan mana yang terbaik buat diri kita?
Tarik napas dulu, mau nyoret mindmap di dinding aja ternyata butuh banyak perjuangan dan kegagalan ya. Yakin aja Tuhan bakalan ngasih ganti yang lebih baik. Luv.
Semarang, 19 Maret 2020.
Komentar
Posting Komentar