Istimewamu Untukku
Istimewamu Untukku
Seorang
lelaki yang sangat bertanggung jawab, tegas, dan bijaksana.
Seorang
lelaki yang sangat setia, cinta, dan sayang kepada seseorang yang ada
disisinya.
Seorang
lelaki yang sangat istimewa bagiku yang lebih dari diriku sendiri.
Ayah,
sebutan tiap saat ku bertemu dengannya di setiap sudut rumah.
Ayah,
sangat berharga dari pada setumpuk mutiara yang tersapu ke pinggir lautan.
Ayah, seorang lelaki tangguh di sebuah keluarga yang
sederhana. Beliau sangat memperhatikan aqidah dan akhlaq keluarganya, karena
itulah cerminan sebuah keluarga yang baik dimata Allah. Ayah selalu mengajarkan
kami tentang apa itu kehidupan yang nyata bukan kehidupan yang serba instan
untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Setiap hari beliau tak pernah
sesaatpun melupakan apa yang menjadi kewajibannya. Beliau sangat mengerti.
Beliaulah teladan untuk kami sekeluarga.
Saat fajar khidzib mulai nampak,
selalu terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an di rumah kami. Yaitu suara
emas ayah yang selalu membangunkan seisi rumah untuk segera bergegas melakukan
sholatu lail, kecuali aku yang dari dulu memanglah bandel dengan peraturan
rumah yang dibuat ayah dan ibu. Namun, hanya ayah yang bisa ku takuti. Saat
langkah kaki beliau mulai mendekati kamarku. Ku terperanjak dari tempat tidur
dan berpura-pura bangun dari tadi, itulah aku. Setelah ayah membuka korden
kamarku ayah hanya bicara ‘’segeralah lakukan kewajibanmu, jangan tidur lagi!’’,
itulah ayah yang kesabarannya melebihi ibu.
Ayah adalah seorang pekerja serabutan yang setiap
harinya tak pernah berhenti mencari nafkah untuk keluarga tercintanya. Tekat
beliau sangat keras untuk membahagiakan keluarga. Berbagai cara beliau lakukan
untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Meskipun beliau harus pergi ke hutan
untuk mencari seonggok kayu bakar untuk di jual maupun harus berendam di sungai
untuk mencari butiran-butiran pasir. Beliau tak melihat entah itu panas, hujan
maupun petir semuanya tak menjadi penghalang untuknya. Dari terbitnya sang
mentari hingga sang senja mulai terbenam, beliau menghabiskan keringatnya untuk
keluarganya. Ketika pulang, sempat beberapa kali ku tangkap wajah beliau yang
sangat lelah, namun saat ku mulai menatapnya beliau selalu menyembunyikan rasa
lelahnya dengan sebuah untaian senyuman yang sangat menghangatkanku. Tak pernah
beliau mengatakan lelah, ayah hanya mengatakan sabar dan bersyukur dengan apa
yang kita miliki sekarang.
Ayah yang selalu mendengar keluh
kesah ibu, ayah yang selalu memperhatikan aku meskipun dari kejauhan. Tak
pernah putus hatinya selalu berdo’a dan mengharapkan semua akan indah pada
waktunya. Inspirasi dan motivasi beliau selalu teucap kala malam hari, dimana
kami bisa berkumpul bersama di gubuk yang sederhana. Ayah mengajarkan ku
tentang kehidupan yang luas, beliau mengizinkanku mengenal dunia luar saat aku
telah siap untuk mengetahuinya. Setelah lulus Sekolah Dasar aku hanya bisa
sembunyi-sembunyi untuk keluar bermain bersama teman-temanku karena ayah sangat
menjaga anak perempuan semata wayangnya ini. Saat aku mulai remaja ayah sebagai
penengah antara aku dan ibu karena kami sering berdebat yang tak ada ujungnya.
Setiap hari seperti itu, tak ada bosannya. Sampai pernah ayah hanya terdiam di
depan ku dengan wajah yang sedikit bosan melihat perdebatanku dengan ibu. Ayah sangat
bijaksana terhadap segala urusan dan masalah yang setiap saat bersliweran di tengah-tengah
keluarga kami.Ayah ku ingin belajar banyak sepertimu.
Dengan berjalannya waktu, semakin
rapuhnya beliau dalam perjalanan hidupnya yang telah menginjak usia 40 tahun.
Beliau tetap menapakkan kakinya setiap hari di jalanan dengan panasnya terik
matahari dan pantulan aspal jalanan. Dengan memikul dua wadah besar dari bambu
di kanan kirinya yang berisikan kerupuk siap makan di pundak yang telah lelah
termakan waktu. Dengan sabar dan niatan tulus beliau menjajakan dagangannya
berjalan dari desa ke desa. Bukan hanya itu, ayah dulu pernah berjualan ikan
segar, baju, membuat rokok tradisional di rumah dengan teman-temannya. Iya ayah
memang manusia tangguh yang akan menerjang samudra untuk kebahagiaan
keluarganya. Semua rasa yang di rasakan setiap hari tak dirasakan. Setiap sore
setelah pulang dari berjualan keliling beliau harus pergi ke pabrik kerupuk
untuk menyetorkan hasil jualan hari itu dan menggoreng kerupuk yang akan di
jualnya besok. Begitulah perjuangan dan pengorbanan ayah yang sangat tak bisa
di kembalikan.
Saat hari yang ku tunggu-tunggu
datang yaitu pengumuman hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah. Alhamdulillah
saat itu aku mendapatkan suatu penghargaan dalam hidupku atas perjuanganku
mengayuh sepeda selama 3 tahun, tak percuma apa yang telah lakukan untuk
mencarikan biaya untukku yang setiap hari harus mandi keringat di bawah panas
ataupun hujan. Iya, hari itu adalah hari yang bersejarah dan membuatku bahagia
dapat memberi hadiah untuk keluarga sederhanaku.
Namun, malam harinya sekitar pukul 00.00 ayah
tiba-tiba mengalami syok, ternyata kadar gula dalam darah ayah mengalami
peningkatan yang tinggi mengakibatkan kondisi tubuh beliau drop. Saat itu juga
beliau di larikan ke rumah sakit dan aku hanya bisa berdo’a di rumah berharap
ayah tidak apa-apa. Pikiranku sangat kacau karena itu pertama kalinya di keluargaku
masuk rumah sakit. Setelah aku telusuri, ternyata ayah memiliki riwayat
penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 yang merupakan penyakit menurun dari nenek.
Ayah telah mengidap penyakit Diabetes Mellitus sejak tahun 1997. Sudah beberapa bulan ayah tidak mengkonsumsi
obat DM karena keterbatasan ekonomi. Selama satu minggu ayah di rawat di rumah
sakit dan selama satu minggu itu aku yang menggantikan ayah berjualan kerupuk.
Aku sangat tak bisa berada di rumah tanpa ayah, semuanya terasa hampa. Hari
pertama ayah di ijinkan pulang dan rawat jalan, aku diwisuda dan saat itu pula
beliau tak bisa hadir menemani wisudaku meskipun sekedar hanya berfoto
denganku. Aku sangat sedih dan merasa bahwa aku ingin mengembalikan waktu. Ayah
yang selalu memotivasiku, selalu menasehatiku untuk tetap semangat dalam
belajar agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan menjadi orang yang berguna
untuk orang lain kini tak bisa menemaniku di atas panggung wisuda bersama
ijazah kelulusanku. Aku hanya bisa meneteskan air mata saat ku melihat
teman-teman yang lain bisa bersama-sama dengan orang tuanya saat wisuda. Ahh…
lupakan itu, aku hanya berkata dan memotivasi diriku sendiri bahwa aku lebih
bisa dewasa karena hal ini.
Ayah yang dulu sangat kuat kini tak sekuat dulu lagi.
Beliau hanya bisa berbaring di tempat tidur karena beliau mengalami kelumpuhan
pada anggota badannya sebelah kiri. Meski begitu beliau tetap memperjuangkan
pendidikan untukku yaitu agar aku dapat masuk ke salah satu pondok pesantren di
kabupaten Madiun. Dengan tubuh yang berjalan masih dengan tongkat, beliau
mengantarku ke sebuah pondok pesantren yang diinginkan. Sungguh aku sangat
tidak bisa menahan air mataku. Ayah berapa kali aku harus memanggil namamu
dengan teriakan di hatiku. Sungguh mulianya beliau. Ayah… sayangku padamu masih
tetap sama seperti dulu, tak pernah berubah. Setelah berjalan 2 bulan keadaan
beliau mulai pulih dan beliau pun memulai pekerjaannya kembali sebagai seorang
penjual kerupuk keliling meskipun tidak di perbolehkan oleh ibu, karena ibu
masih khawatir dengan keadaan ayah. Begitulah ayah yang keras kepala.
Dengan berjalannya waktu telah 2 tahun aku menjadi
seorang santri putri di sebuah pondok pesantren yang ayah inginkan. Disitu aku
sering mengalami kekurangan. Namun aku tak pernah berani bicara kepada ibu
maupun ayah untuk meminta kiriman dan segala macam. Aku hanya berharap orang
tuaku selalu dalam lindungan Sang Pemilik Hati. Ayah… aku cinta padamu. Pernah
aku terperanjak kaget dan menangis sejadi-jadinya karena ayah dating
menjengukku ke pondok dengan mengayuh sepeda yang menemani perjuanganku selama
3 tahun di Madrasah Tsanawiyah. Beliau mengayuh sepeda dari rumah hingga pondok
yang jaraknya sangat jauh dengan keadaan beliau yang kurang sehat (hanya bisa
menyetir dengan satu tangan) dan beliau pun menjengukku tanpa sepengetahuan
ibu, karena ayah tau pasti ibu tak akan mengijinkannya. Karena rasa rindu dan sayangnya
kepadaku ayah lakukan semua ini, beliau memang nekat, tak pantang menyerah
itulah ayah.
Sesekali penyakit beliau kambuh karena kehabisan obat.
Saat itu tak pernah sekalipun ada kabar tentang keadaan di rumah. Ternyata ayah
masuk rumah sakit dan aku tak mengetahuinya karena ayah melarang ibu untuk
memberitahuku. Ayah takut nanti mengganggu konsentrasi belajarku. Setelah ku
telusuri ternyata ayah telah masuk rumah sakit selama 1 bulan. Pernah satu kali
tante menjengukku dan hanya bilang maaf ayah dan ibumu belum bisa menjengukmu
masih repot di rumah, dengan membawakanku sebungkus nasi dan lauk. Ku akui aku
sangat rindu dengan ayah dan ibu.
Suatu ketika aku pagi-pagi aku mendapat telfon untuk
hari itu juga aku harus pulang. Tak banyak pikir aku langsung ijin ke pengasuh
pondok. Setelah pulang sekolah aku langsung pamit dengan pengasuh pondok dan
tak tahu kenapa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku minta tolong
teman sekolahku untuk mengantarkanku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah
sekitar pukul 14.00 WIB. Bagaimana kagetnya aku melihat ayah yang tak berdaya
telah koma dari pukul 06.00 pagi berada di atas ranjang dan ibu hanya
memberinya minuman madu. Tanpa kata aku memeluk beliau dan aku tak bisa bicara
apapun kepada beliau. Ayah, kenapa bisa seperti ini? Kenapa aku tak tahu
apa-apa? Hanya ada pertanyaan itu di hatiku yang aku tanyakan kepada diriku
sendiri. Hanya ada kata penyesalan kenapa aku tak menemanimu dan kenapa aku tak
merawatmu. Apa gunanya aku, ayah?. Dalam hatiku ingin berontak. Ayah sempat
memegang tanganku dan mengarahkan ke dadaku. Aku berusaha mengartikan maksud ayah.
Aku berusaha berbicara dengan hati ayah, namun aku seperti tak mampu apa-apa.
Napas ayah semakin tak stabil, kekuatan otot ayah memegang tanganku semakin
lemah. Ayah kumohon jangan lepaskan aku! aku hanya bisa bicara dalam hati,
karena mulut ini seperti terkunci rapat dan hanya air mata yang berlinang
menjadi saksi bisuku. Setelah satu setengah jam ku berada di sampingnya. Ayah
di panggil untuk kembali ke Rahmatulloh. Aku membisikkan kalimah-kalimah
thoyyibah di telinga beliau sebisaku. Sungguh tak tau apa yang harus ku lakukan
saat itu. Air mataku semakin deras di pipi dan mulut pun sudah tergembok dengan
rapat dan semakin rapat. Ku hanya bisa mengikhlaskan kepergian beliau untuk
menghadap Sang Pemilik Hati. sesekali aku berpikir siapa yang akan menjadi motivatorku,
siapa yang akan menemani langkah dan perjuangan keluargaku? Ayah…
Ayah,
inikah akhir dari kisah perjuangan dan perjalanan dalam hidupmu?
Ayah,
seperti inikah hidup di dunia?
Ayah,
semoga mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya
Ayah,
semoga jalanmu terang secerah sinar mentari di pagi hari
Ayah,
aku akan sangat merindukanmu
Ayah,
aku sangat kehilangan sosok pahlawanku
Ayah,
aku selalu bangga kepadamu
Ayah,
kau sangat istimewa kau sangat berharga
Ayah,
terimakasih untuk segalanya yang telah kau berikan
Ayah,
terimakasih telah mengajariku arti kehidupan
Ayah,
istimewamu untukku….
Semoga
kami sekeluarga dapat berkumpul di surga kelak.
Tunggu
aku ayah!
Salam
hangat dari kehidupan fana.
Dituis
di kamar Inspirasi, Gondang Barat IV No.20, Kota Semarang pada tanggal 26
November 2015.
Komentar
Posting Komentar