Aku Adalah Manusia dan Aku Sama Sepertimu
Aku Adalah Manusia Dan Aku Sama Sepertimu
Siapa
dirimu sebenarnya? Kau akan bertanya-tanya tanpa tahu jawaban sebab dirimulah
jawaban dari pertanyaan itu sendiri.
Sebuah
ruang di sudut rumah adalah markas ternyaman bagi Tris. Buku berjejer rapi di
rak yang sepertinya tidak akan muat diisi lagi, karpet kecil berwarna hijau
dengan kertas-kertas menyebar diatasnya dan secangkir kopi hitam yang tidak
sabar untuk dinikmati pecandunya. Setiap waktunya diisi di ruang itu, semejak
kepergian ayahnya 6 tahun yang lalu. Ayah Tris seorang petualang, penulis
sekaligus musikus. Lelaki hebat dimasanya kala Tris beranjak remaja. Sekarang
Tris tinggal sendirian di sebuah rumah peninggalan neneknya di kota Atlas. Ia
memutuskan tinggal sendiri di kota ini, jauh dari ibu dan adiknya yang sekarang
sudah memiliki keluarga lagi di rumah yang dulu, rumah yang dulu akrab dengan
canda-canda kecil dari ayahnya.
“Setiap
orang butuh memikirkan, menikmati dan menghargai hidupnya sendiri” kata Tris
saat diwawancarai kru sebuah majalah sastra.
“Apa
impian mbak yang belum tercapai” tanya salah satu kru tersebut
“Udah
sih, saya cuma pengen bermanfaat buat sekitar dan mati bahagia, nggak nyusahin
orang lain lah intinya” Tris menjawab dengan enteng.
Tris
adalah sosok yang luar biasa, dia hidup dengan setumpuk pemikiran yang
memaksanya untuk segera dewasa karena lingkungan. Dia belajar menghidupi
dirinya sendiri, mencari biaya kuliah dengan kerja dan dari beasiswa. Sering
pindah-pindah tempat part time karena kurang cocok dan sekarang dia bekerja sebagai
driver di sebuah aplikasi online.
Hidupnya memang sederhana, tak banyak teman yang tahu kondisi hidupnya hanya 2
orang sahabatnya yaitu Sae dan Aan. Mereka berdualah yang sering meramaikan
hidup Tris yang begitu sepi. Meski begitu mereka adalah sahabat yang tak pernah
membocorkan rahasia, saling membantu, dan saling merasa. Sesekali hidup ini
memang butuh tempat dimana kita dapat menyimpan rahasia dengan rapat namun
tidak pada hati kita sendiri. Biarkan hati kita menyimpan sebagian rahasia dan
kebahagiaan.
“Hai
Tris, hari ini kamu ada kelas nggak?” satu pesan muncul di layar gadget-nya.
“Kosong
nih, gimana Sae?”
“Hmmmm,
eh nanti aja deh nongki di tempat biasa jam 8 malem sama Aan juga, dia sekarang
lagi kelas soalnya”
“Oke,
siap Pak Bos”
Tepat
pada waktunya Tris bertemu dengan kedua sahabatnya. Mereka bertiga sudah paham
aturan ketika kumpul yaitu no gadget.
Lima belas menit kemudian terdengar dering gadget
dari sebuah tas.
“Eh
bro, sorry emakku telfon” sambil nunjuk
layar hp.
“Iya
bro santailah, udah sono diangkat keburu emakmu ngambek, hahaha”
“Eh Tris, ibumu udah kirim kabar?”
Entah
ada angin apa tiba-tiba Sae menanyakan perihal ibunya Tris yang membuat mood Tris ikut berubah.
“Hahaha
kenapa kamu jadi nanya soal ibuku?”
“Ya
nanya aja, mungkin dia masih ngarepin kamu balik”
“Kagak
tahu deh, aku udah pasrah, udah nggak pengen pulang, apalagi ngeliat mukak
siiiiiii......, ahhhh entar malah aku tonjok mukak dia”
Ibu
Tris sudah lama tidak menghubunginya sejak berlangsungnya pernikahan yang tidak
akan pernah disetujui oleh anaknya tersebut. Tris juga tidak pernah menghubungi
ibunya kecuali saat mau ujian dan itu hanya sebatas meminta do’a. Entah ego apa
yang menyusupi diri ibu dan anaknya ini. Sahabat Tris pun mengetahui bagaimana
awal cerita ini terjadi. Hingga kondisi Tris yang sekarang seperti ini.
“Tumben
telfon lama amat, An”
“Iya
nih, emakku curhat soal tetangga jadi ya gitu deh, panjang kali lebar”
“Jadi
gimana nih rencana kita buat bikin komunitas Self Healing?”
“Gini
aja gimana, kamu kan anak kesehatan Tris tapi jiwamu melencong ke sastra nah
kamu kayak yang bikin apa ya, kayak ngajarin mereka baca puisi kek, cerita
lewat gambar kek, atau nulis apapun yang jadi unek-unek yang dari dulu nggak
pernah bisa diungkapin, ya kek gitu kali ya? Trus si bro kan anak psikologi
nih, nah dia yang tahu ni kayak ngasih motivasi istilahnya kayak kamu nembak
masalahnya tapi nggak jleb ke individunya tapi lama-lama dia akan mikir. Nah
kalo aku bagian gimana caranya mereka bisa ikutan masuk komunitas trus aktif di
komunitas dan nggak ilang-ilangan, gimana menurut kalian?”
“Iya
bro santai, coba minum dulu, kamu dari tad nerocos mulu nggak haus apa? hahahah”
“Boleh
sih, aku setuju tapi nggak nambah orang lagi kan buat memulainya?”
“Nggak
usah, kita aja dulu, itu urusan belakangan yang penting kita jalan bertiga
dulu”
Lima
bulan kemudian komunitas Self Healing
menjadi komunitas yang sangat digemari oleh anak-anak muda jaman now. Mulai dari anak SMA hingga anak
kuliahan setiap sore di akhir bulan mereka kumpul di taman Boga untuk membagi
perasaan-perasaan yang mengganggu dalam dirinya lewat tulisan, lewat cerita,
lewat lukisan, tak jarang tiga sekawan itu juga mengajak psikolog muda yang
ingin ikut berkontribusi dalam komunitas tersebut.
Sembari
menjadi orang penting dalam komunitas Self
Healing. Tris tidak pernah lupa dengan markasnya, masih dengan ide-ide yang
selalu mengantri di pikirannya untuk ia tuliskan ditemani lagu Kunto Aji,
Fiersa Besari x Kerabat Kerja ataupun Barasuara.
Dia
memang merasa benar-benar salah jurusan di kampusnya. Tak ada teman dekat
dijurusannya karena tipikal teman-teman jurusannya yang hanya dekat saat
membutuhkan, jalan-jalan di mall, nonton film di bioskop atau pergi ke
tempat-tempat perawatan kecantikan dan lain sebagainya. Sedangkan Tris sama
sekali tidak tertarik dengan tempat-tempat seperti itu. Dia lebih memilih pergi
ke toko buku atau ke tempat buku bekas untuk mencari referensi karyanya atau
pergi ke tempat-tempat yang berbau alam untuk mendapatkan ide-ide cemerlang
selain mengurung diri di markasnya.
Tris
mulai mencoba untuk ikut lomba menulis puisi dan cerpen dari info-info lomba di
medsos. Sebenarnya Tris sendiri ingin membuat novel namun melihat cerpen dan
puisinya yang masih dirasa biasa saja dan belum ada yang begitu tertarik.
Akhirnya Tris hanya menyimpannya di laptop yang sesekali dia bisa
melanjutkannya tanpa orang lain tahu.
Beberapa
bulan ini dia lebih rajin mengunggah hasil karya puisi maupun cerpen ke
berbagai media sosial yang ia miliki. Pada suatu ketika ada salah satu penerbit
buku yang melirik karya Tris dan mengirimkan pesan singkat melalui email.
“Eh,
tadi malem aku mimpi apa coba? Aku dapet email dari penerbit Genta” pesan
singkat di layar gadget Aan.
“Ini
jam berapa Tris?, aku ngantukkkk, kamu ngigo ya ngechat aku, tidur lagi sono
gih” balas Aan dalam pesan singkatnya.
“Yahhhh
rese L” balas Tris.
Akhirnya
Tris sepakat untuk meluncurkan sebuah buku berkat dukungan dari Mbak Viona
salah satu tim penerbit. Beberapa proses harus dilalui demi terlahirnya sebuah
karya yang sangat diimpikan oleh Tris dari kecil. Sebab dia terlalu sibuk
dengan penerbitan novelnya, komunitas yang awalnya diusung oleh tiga sekawan
akhirnya harus terlunta-lunta, kadang masuk kadang tidak, sudah tidak setertib
dulu. Biasanya hanya Aan yang ikut kumpul dalam kegiatan akhir bulan. Hingga
pada suatu ketika emosi Aan memuncak kepada kedua sahabatnya. Aan mengirim
pesan singkat lewat grup Whatsapp.
“Aku
ingin bubarin komunitas Self Healing”
“Eh,
jangan ngawur aja bro, emang itu komunitas milikmu sendiri?”
“Lah
ada apa sih? Tiba-tiba jadi gini”
“Cuman
aku yang selalu nyempetin waktu buat mereka, kalian kemana aja? Mikirin diri
kalian sendiri? Iya? Dulu awalnya gimana bro, kenapa akhir-akhir ini jadi aku
sendiri yang terjun? Aku capek”
“Oke,
aku ngaku salah, aku terlalu mikirin penerbitan novelku. I’m sorry, bulan depan
aku dateng full time buat mereka”
“Kamu
pikir cuman kamu yang capek, An? Aku nyari anak-anak yang mau gabung dan tetep
merasa nyaman disitu itu susah, An. Nggak segampang kamu ngebacot di depan
mereka trus mereka langsung percaya sama kamu An”
“Udah-udah
nggak usah pada ribut, kita semuanya salah nggak ada yang bener. Kita yang
bikin komunitas harusnya kita juga yang menjaga, bukannya malah pada berantem
gini. Udah besok kita kumpul di tempat biasanya ya”
“Sorry
besok aku nggak bisa, soalnya ada karyawan yang cuti, aku harus gantiin di
kedai”
“Mentang-mentang
udah punya kedai aja, lupa juga dia sama kita”
“Udah
woy udah”
Perang
dingin masih berlanjut dimedsos hingga beberapa hari. Tris merasa sangat
bersalah atas kejadian ini hingga kedua sahabatnya saling bertengkar. Mungkin
hanya Tris yang bisa menjadi penengah tapi pada kenyataannya Tris malah jauh
dari keduanya. Pertemanan menjadi berantakan karena masing-masing memikirkan diri
sendiri, komunitas Self Healing tidak
seperti dulu lagi. Setelah banyak anak-anak yang mulai menghilang dari
komunitas. Muncul banyak kabar burung tentang pembubaran komunitas Self Healing tersebut yang akhirnya
mengundang simpati dari para teman-teman psikolog yang sempat berkunjung di
komunitas tersebut. Beberapa dari mereka menghubungi Tris, Aan, dan juga Sae
untuk tetap menjaga komunitas dan jangan sampai bubar karena komunitas tersebut
sangat bermanfaat untuk anak-anak muda jaman sekarang. Di akhir bulan
terjadilah kesepakatan untuk kumpul bersama dan tidak ada yang diperbolehkan ijin.
Pada saat itu Aan dan Sae belum saling menyapa. Mereka masih pada ego
masing-masing.
Pada
saat itu ada anak baru yang bergabung di komunitas, dia sangat antusias mengikuti
kegiatan hari ini. Hingga pada akhirnya kita terheran-heran oleh cerita
hidupnya yang selama ini dia pendam sendirian. Sekuat itu ia menjalaninya.
Selama 15 tahun memendam trauma yang tak kunjung bisa hilang dari ingatannya.
Hingga kedua orang tuanya tiada dan dia hidup bersama saudara dari ibunya.
Disana dia tidak hidup tenang dan nyaman, dia diperlakukan bagaikan budak di
rumah tantenya sendiri sampai pada akhirnya dia bisa kabur dari kehidupan
bersama tante tersebut tapi itu belum selesai.
Dia
harus bekerja keras di luar sana mencari sesuap nasi dan untungnya ada teman
baik yang mengajaknya tinggal bersama dikos-kosan kecil di pinggiran kota. Teman
baiknya juga bukan orang kaya, mereka sama-sama berjuang, merasa senasib berada
di bumi, sama-sama makan nasi, dan kita sama-sama manusia. Di akhir kegiatan
haru memecah suasana saat Sae tiba-tiba meminta maaf kepada seluruh rekan
komunitas atas keegoisannya begitu juga Aan. Tris tak bisa berkata-kata, dia
hanya memeluk bocah yang sedari tadi menjadi pusat perhatian semua manusia di
komunitas tersebut.
Tiga
sekawan telah kembali pada pangkuan persahabatannya. Sesampainya di markas
Tris. Seperti biasa mereka bercanda tawa bersama seperti tidak ada perang
dingin diantara mereka sebelumnya.
“Maafkan
aku, aku adalah manusia, tidak bisa hidup sendirian namun selalu sok-sokan
paling benar sendiri, selalu memaksa orang lain untuk memahami diriku padahal
aku tak berusaha untuk memahami orang lain”
”Santai
bro, kita udah ikhlas kok, manusia itu nggak ada yang sempurna, kejadian
kemarin buat lebih nguatin persahabatan kita, Bro. Aku belajar banyak dari
masalah kemarin, ego jangan dipelihara lama-lama nanti bisa jadi fosil,
hahahaha”
“Nah
gini dong, aku kan tenang disamping kalian nggak kayak kemarin-kemarin aku takut
sama kalian, aku udah kayak sasaran empuk buat kalian berdua hahaha. Eh bulan
depan komunitas ulang tahun yang ke 2 tahun loh, gimana mau ngadain apa? Makrab
yuk!”
“Nah
ide bagus tuh, ke Gunung Kidul aja gimana?”
“Nah
mantul nih Bro, aku mah siap banget” .
Setelah
ulang tahun komunitas Self Healing
yang ke 2 tahun, tiga sekawan semakin menjalani kisah hidupnya semakin kuat,
ada rasa kebersamaan yang melekat di tiap diri mereka, ada rasa saling memiliki
pada diri mereka, dan ada rasa saling menjaga untuk selalu melangkah maju
bersama.
Komentar
Posting Komentar