Prahara Ca Mamae
Semua manusia memiliki pikiran dan perasaan. Tepat satu minggu saya menjadi enumerator penelitian di poli onkologi di sebuah rumah sakit daerah. Awalnya iseng-iseng aja nerima tawaran dari teman saya dan setelah berjalan 3-4 hari saya menemukan banyak hal yang jarang sekali saya sadari. Apa itu ? Syukur dan ikhlas
Bertemu dengan beberapa pasien dengan diagnosa medis ca mamae, mendengarkan cerita dari mereka, tangis, sedih, kecewa, putus asa, semangat, positif, bahagia bahkan diacuhkan oleh orang yang dulu sangat mencintainya.
Itulah hidup bisa berbolak-balik layaknya hati manusia.
Saya akan mencuplik satu cerita nyata langsung dari penderita ca mamae (kanker payudara)
Sedih pasti, seperti kehilangan separuh raganya saat divonis ca mamae dextra 3 tahun yang lalu. Memiliki 2 orang anak yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Suaminya seorang wirausaha sukses yang tidak perlu ditanya gajinya berapa, jelasnya untuk kebutuhan sehari-hari masih sisa banyak. Saat awal divonis, ibu tak berani bercerita kepada suaminya tapi selang 3 hari akhirnya ibu memberanikan diri untuk bercerita kepada suaminya, saat itu pula suaminya terkejut dan mengatakan suatu hal yang sangat tidak pantas diucapkan kepada istrinya. Sang ibu langsung menangis sejadi-jadinya. Seminggu kemudian emosi sudah mereda, ibu berangkat ke rumah sakit bersama dengan suami untuk melanjutkan program apa saja yang akan dilakukan dokter untuknya agar ibu tersebut dapat segera sembuh.
Banyak uang berhamburan dirumah sakit untuk menyelamatkan nyawa ibu, berbagai macam program sudah berjalan. Begitu pula suaminya menghamburkan uangnya untuk memenuhi nafsu seksnya dengan wanita-wanita yang sebenarnya tidak pernah mencintainya. Ibu tidak pernah tahu apa yang dilakukan oleh suaminya di luar sana saat ia sedang merintih kesakitan melawan efek kemoterapi. Rambut segera habis, badan tak kuasa mengangkat kaki untuk melangkah, mual, muntah tanpa ada yang keluar dari mulutnya.
Syukurnya ibu sekarang sudah masa pemulihan ibu sudah selesai dioperasi dan program kemoterapinya juga sudah selesai, datang ke rumah skait hanya untuk ambil obat dan kontrol sebulan sekali selama 5 tahun dan ini sudah berjalan 2,5 tahunan. Berkat dukungan dan do'a dari keluarga ibu dan anak-anaknya. (Tidak ada yang membuat saya semangat untuk sembuh kecuali anak- anak saya, mbak)
Sungguh ibu menceritakannya hingga berderaian air mata di depan apotek dekat poli. Saya yang harus menahan air mata, seseolah menelan ludah dalam-dalam seperti ada seonggok permen karet di kerongkongan.
Apapun yang kalian lakukan, seperti bagaimanapun hargailah semua itu. Udah dulu ya, kapan-kapan ketemu lagi... see you next time.
Apapun yang kalian lakukan, seperti bagaimanapun hargailah semua itu. Udah dulu ya, kapan-kapan ketemu lagi... see you next time.
Komentar
Posting Komentar